Kami Indonesia

 Kami Indonesia

Leluhur bilang jangan pernah lupa darimana asal kamu berasal. Kalau ditanya sekarang apakah kamu bangga menjadi orang Indonesia? Negeri ini memang lahir bukan tanpa cacat. Indonesia baru lahir di 1945 saat Soekarno memproklamasikan nama Indonesia dengan dasar seluruh wilayah bekas jajahan Hindia Belanda. Wajar jika sampai sekarang Belanda tidak pernah mau mengakui pernah menjajah Indonesia selama 320 tahun karena dulu Indonesia dulu bukan sebuah negara, melainkan kerajaan-kerajaan dengan wilayah masing-masing.

Sejak 1945, proses penyatuan Indonesia penuh luka. Sampai sekarang masih banyak orang-orang yang memar, teraniaya, dan runtuh seiring penyatuan 17.504 pulau di Indonesia. Sejarah mencatat, ada 10 wilayah yang mau merdeka dari Indonesia, antara lain: Maluku, Riau, Papua, Aceh, Makassar, Kalimantan, Minahasa, Bali, Yogyakarta, dan Sumatera Barat.

Ada yang mengejek, mana mungkin negara kepulauan nusantara ini bisa bertahan tetap bersatu? Sejarah kerajaan Majapahit dan Sriwijaya membuktikan negara kepulauan sulit menyatu. Belum lagi dosa Indonesia terhadap Timor Timur yang belum dimaafkan oleh publik internasional.

Jadi, apakah kamu bangga menjadi orang Indonesia?

Di Papua, Free West Papua Campaign telah menjadi gerakan masif; yang dengan konsisten menyuarakan keinginan mereka memisahkan Papua dari Indonesia. Sejak 2014, United Liberation Movement of West Papua (ULMWP) yang dinahkodai Benny Wenda sangat aktif melakukan diplomasi digital dan internasional.

Pendukung aktif Free West Papua yang sibuk berteriak di dunia digital perlu tahu bahwa keluhan kalian atas ketidakadilan yang terjadi di Papua juga dirasakan oleh penduduk pulau lain di Indonesia. Dalam tulisan ini, kami pun ingin menuntut jawaban atas ketidakadilan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Indonesia bukan hanya Papua. Ada lima pulau besar dengan 33 provinsi yang harus diasuh oleh Indonesia; yang harus diperhatikan dan dibangun oleh negara. Karena itu, kami pun ingin menyuarakan perasaan frustasi saudara-saudara kami, dari Sabang hingga Merauke; agar republik ini tidak lupa, tidak buta, dan tidak tuli.

1. Peristiwa Trisakti, Jakarta

Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa mati tertembak dan puluhan lainnya luka-luka saat melakukan demonstrasi menuntut mundur Presiden Soeharto.

2. Tragedi Semanggi, Jakarta

Tragedi Semanggi I merupakan peristiwa protes masyarakat kepada pelaksanaan serta agenda Sidang Istimewa MPR yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 13 November 1998 dan menuntut pembersihan orang-orang Orde Baru dari posisi pemerintahan dan militer. Setidaknya lima orang korban meninggal dunia akibat peristiwa ini dan puluhan lainnya luka-luka.

3. Peristiwa di Abepura, Papua

Salah satu contoh kasus pelanggaran HAM di Papua terjadi di Abepura pada 2003. Sekelompok orang melakukan penyerangan pada Markas Polisi Sektor Abepura. Penyerangan ini memicu penyisiran wilayah secara membabi buta oleh pihak Kepolisian Abepura.

4. Kasus Bulukumba, Sulawesi Selatan

Kasus pelanggaran HAM terjadi di Bulukumba pada 2003. Warga Bulukumba melakukan demonstrasi penolakan perluasan area perkebunan PT London Sumatra (Lonsum). Akibat sengketa lahan ini, beberapa warga sipil tewas dalam bentrokan dengan polisi.

5. Kasus Pemberontakan GAM

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai melakukan perlawanan untuk memisahkan diri dari Indonesia pada 4 Desember 1976. Konflik yang terjadi antara GAM dan militer Indonesia tidak terelakkan dan menjatuhkan puluhan ribu korban.

Apakah data ini sudah cukup untuk membantu kalian, Free West Papua Campaign, sebagai tambahan amunisi untuk menyerang Indonesia? Sudahkah cukup untuk kalian publikasikan dan nyatakan di sosial media untuk memberikan tambahan alasan kalian agar Papua bisa merdeka.

Ah, tapi jangan lupa. Republik Indonesia ini sudah melewati masa paling kelamnya.

Republik ini dulu dijajah selama 320 tahun oleh Belanda. Sempat pula kami dijajah oleh Jepang. Kami yang merasa senasib sepenanggungan ini menyatakan diri kami sebagai Indonesia.

Meski tempat tinggal kami terpisah selat dan lautan, Soekarno mendeklarasikan dengan yakin bahwa semua wilayah Hindia Belanda saat itu, dari Sabang sampai Merauke, adalah Indonesia.

Kami melewati 5 tahun paling berdarah setelah 1945, saat Belanda melakukan politik devide et impera dengan membentuk negara boneka. Indonesia dipaksa melawan orang Indonesia sendiri.

Skenario Belanda saat itu memang cerdik. Kemerdekaan yang diberikan Belanda kepada keenam negara boneka ini akan selamanya mengikat mereka dalam politik balas budi; selamanya akan terus dalam kendali Belanda. Sebagaimana janji kemerdekaan yang diberikan Belanda kepada Papua.

Masih ingat tanggal 1 Desember yang dirayakan sebagai Hari Kemerdekaan Papua? 1 Desember 1961, Belanda mengingkari perjanjian KMB. Belanda tidak hanya sekedar bertahan di Papua melainkan juga mempersiapkan langkah-langkah untuk memisahkan tanah Papua dari NKRI. Dewan Nasional Papua dibentuk dan kemerdekaan Papua di deklarasikan.

19 Desember 1961. Langkah Belanda membentuk negara Papua membuat bangsa Indonesia berang. Maka di Alun-Alun Utara Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumumkan Trikora (Tri Komando Rakyat) dengan isi:

Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda.
Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, tanah air Indonesia.
Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Tetapi bukan berarti jiwa Nasionalisme akan berubah dan melemah. Itu tidak berarti bahwa jiwa rakyat akan berubah. Jiwa kebangsaan rakyat ini tidak padam dan tidak akan pernah padam.

Kami tetap kokoh dengan pendirian kami bahwa Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke. Seperti lagu nasional “Dari Sabang sampai Merauke” yang terus kami nyanyikan agar anak-anak kami, generasi baru Indonesia, terus ingat: kami adalah Indonesia.

Memang betul negeri ini tidak sempurna, masih banyak kasus HAM, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur yang terus membuntutinya. Tapi, kami tak gentar untuk tetap mengakui Indonesia sebagai negara kami.

Bagi kami, bangsa ini lebih besar daripada etnis, kelompok, bahasa, dan suku. Mimpi kami untuk Pancasila masih membara dari Sabang sampai Merauke.

Satu, ketuhanan yang maha esa.
Dua, kemanusiaan yang adil dan beradab
Tiga, persatuan Indonesia
Empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sekalipun ada api dalam sekam yang disebarkan melalui doktrin, sekali pun Indonesia berusaha dibagi-bagi, dihantam-dilabrak dengan perbedaan suku dan dicekoki dengan upeti janji angin kemerdekaan Papua.

Kami tetap kokoh mengaku Indonesia.

 

Referensi:

https://infonawacita. com/sri-mulyani-jangan-pernah-lelah-mencintai-negeri-ini/

https://www.hipwee. com/list/10-alasan-mengapa-kita-wajib-bersyukur-dan-bangga-menjadi-orang-indonesia/

https://www.boombastis. com/negara-boneka-belanda/47619

Free West Papua Campaign

http://freewestpapuacampaign.com

0 Reviews

Write a Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *